Selain kekeruhan, ancaman penurunan produktivitas tanah, banjir, longsor, serta pencemaran bahan kimia berbahaya seperti merkuri kini membayangi kehidupan warga dalam jangka panjang.

 

Koordinator Divisi Komunikasi KKI Warsi, Sukmareni, menegaskan masyarakat pada akhirnya menjadi pihak yang paling dirugikan dari kerusakan lingkungan ini.

 

“Akibatnya, lahan dan hutan terus dieksploitasi tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan maupun keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat dalam jangka panjang,” ujar Sukmareni.

 

Sukmareni menambahkan, kerusakan kawasan hutan dan daerah tangkapan air secara langsung meningkatkan ancaman bencana ekologis di pemukiman warga.

 

“Sementara risiko banjir dan longsor meningkat karena rusaknya kawasan hutan dan daerah tangkapan air,” jelas Reni.