Karena itu, workshop tidak hanya diarahkan pada pengenalan manfaat Trichoderma, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan strategi pemasaran. Masyarakat didorong memahami cara memperkenalkan produk, membangun identitas produk, menentukan sasaran pemasaran, serta memanfaatkan berbagai media untuk memperluas jangkauan pasar.

 

Ketua Kelompok Tani Desa Bajang, Ahmad Syafi’i, bersama Sekretaris Kelompok Tani, Sufahol, berharap pengembangan Trichoderma tidak hanya berdampak pada peningkatan branding produk, tetapi juga mampu mengangkat nama Desa Bajang melalui produk pertanian yang dikembangkan masyarakat.

 

Selain aspek pemasaran, kegiatan tersebut juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam mendukung keberlanjutan produksi Trichoderma. Salah satu bentuknya melalui pemanfaatan limbah rumah tangga, seperti air beras, yang dapat dikumpulkan masyarakat untuk kemudian disalurkan kepada kelompok tani sebagai bahan pendukung pengembangan Trichoderma.

 

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya berperan sebagai konsumen, tetapi juga dapat terlibat dalam mendukung proses pengembangan produk sekaligus membantu memperkenalkan dan memasarkannya.

 

Pengembangan pemasaran dinilai menjadi bagian penting karena selama ini pemanfaatan dan pemasaran produk Trichoderma masih terbatas. Melalui strategi pemasaran yang lebih terarah, produk tersebut diharapkan mampu menjangkau masyarakat dan pelaku pertanian di luar Desa Bajang.