Transtu.id
Breaking News
Keributan Saat Acara Warga di Pegantenan Berujung Tikaman Pisau PT Cocoman Buka Suara Soal Penggeledahan Kejati Sulteng, Klaim Tak Menambang Sejak 2014 Warga Paksa PT SMM Ditutup : "Lingkungan Kami Jangan Dirusak, Turunkan Kades!" Nama Bayi di Pamekasan Jadi Sorotan, Orang Tua Pilih “Mojtaba Khamenei” sebagai Doa dan Harapan Desak Tangkap Pengusaha PR Subur Jaya, Famas-Mahardika Demo Bea Cukai Jatim Langsung Ke Menkeu RI hingga KPK

Tekan ENTER untuk mencari

Jelajah Kategori
BERANDA Uncategorized Berita Olahraga Politik Peristiwa Advertorial Kesehatan Pendidikan Hukum dan Kriminal Nasional Opini Sosial Ekonomi Pemerintah Pariwisata
Informasi Redaksi
Redaski Tentang Kami Info Iklan Kode Etik Pedoman Media Siber Privacy Policy Disclaimer

Topic Archive

#Pamekasan

Hukum dan Kriminal

Keributan Saat Acara Warga di Pegantenan Berujung Tikaman Pisau

02 Mei 2026

Pamekasan, Transatu – Keributan yang terjadi di tengah kegiatan warga di Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, berakhir dengan aksi penusukan.  Seorang pria berinisial M (46), warga Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, kini harus berurusan dengan aparat kepolisian usai diduga melukai seorang pria menggunakan senjata tajam. Insiden tersebut terjadi pada Selasa malam, 14 April 2026 sekitar pukul 19.30 WIB di area pemakaman umum Dusun Bunut, Desa Plakpak. Saat itu, lokasi sedang dipadati warga karena berlangsung sebuah kegiatan masyarakat. Korban diketahui berinisial MG (48). Berdasarkan informasi yang dihimpun, keduanya sempat terlibat adu mulut sebelum situasi berubah menjadi aksi kekerasan. Kasat Reskrim Polres Pamekasan, AKP Yoyok Hardianto mengatakan, percekcokan awalnya berlangsung biasa. Namun emosi pelaku memuncak hingga akhirnya nekat mengeluarkan pisau yang dibawanya. “Pelaku mengaku menusukkan pisau satu kali ke arah korban saat cekcok terjadi,” ujar AKP Yoyok Hardianto. Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka pada bagian lengan kiri dan harus menjalani penanganan medis. Polisi juga telah mengantongi hasil visum sebagai bagian dari proses penyidikan. Menurut Yoyok, senjata tajam yang digunakan pelaku memiliki panjang sekitar 40 sentimeter. Barang bukti tersebut kini telah diamankan oleh penyidik. “Pisau yang digunakan sudah kami sita untuk kepentingan penyidikan,” katanya. Usai kejadian, pelaku sempat tidak langsung diamankan. Namun setelah dilakukan penyelidikan oleh tim opsnal Satreskrim Polres Pamekasan, pelaku akhirnya berhasil ditangkap pada Kamis malam, 30 April 2026. “Pelaku diamankan tanpa perlawanan,” tambahnya. Polisi menyebut motif sementara kasus tersebut dipicu emosi spontan akibat perselisihan di lokasi kejadian dan tidak ditemukan adanya unsur perencanaan sebelumnya. Saat ini pelaku telah ditahan di Mapolres Pamekasan dan dijerat Pasal 466 ayat 1 KUHP dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang penganiayaan.

Daerah

Nama Bayi di Pamekasan Jadi Sorotan, Orang Tua Pilih “Mojtaba Khamenei” sebagai Doa dan Harapan

02 Mei 2026

Pamekasan, Transatu - Warga Kabupaten Pamekasan, Madura, dibuat perhatian oleh sebuah peristiwa unik ketika sepasang orang tua memberikan nama anaknya “Mojtaba Khamenei”.  Nama tersebut dipilih karena terinspirasi dari sosok Mojtaba Khamenei yang dikenal di panggung politik internasional. Peristiwa itu terjadi dalam sebuah acara tasyakuran kelahiran sekaligus aqiqah yang digelar secara sederhana pada akhir April 2026.  Dalam kegiatan tersebut, terpampang banner bertuliskan nama lengkap sang bayi, yakni Mojtaba Khamenei Ibnu Taufiq, yang lahir pada 27 April 2026. Orang tua bayi mengaku bahwa keputusan memberi nama tersebut bukan sekadar pilihan biasa. Mereka menyebut sosok Mojtaba Khamenei sebagai figur yang dikagumi karena dinilai memiliki karakter kuat dan berpengaruh di tingkat global. “Nama ini kami pilih bukan tanpa alasan. Kami mengagumi sosoknya yang tegas dan memiliki pengaruh besar,” ujar salah satu anggota keluarga dalam acara tersebut. Ia menambahkan, nama yang diberikan bukan sekadar identitas, melainkan mengandung doa panjang untuk masa depan sang anak.  Harapan besar disematkan agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berilmu. “Ini adalah doa kami sebagai orang tua. Kami berharap anak kami kelak menjadi sosok yang kuat, cerdas, dan membawa manfaat bagi banyak orang,” ungkapnya. Acara tasyakuran berlangsung khidmat dengan dihadiri keluarga besar dan kerabat dekat. Selain doa bersama, prosesi aqiqah juga dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran buah hati mereka. Fenomena pemberian nama tokoh dunia ini pun menarik perhatian warga sekitar. Sebagian masyarakat menilai hal tersebut sebagai bentuk ekspresi kekaguman terhadap tokoh global, sekaligus simbol harapan orang tua terhadap masa depan anaknya. “Jarang ada yang berani memberi nama seperti itu. Tapi ini menunjukkan harapan besar dari orang tua kepada anaknya,” kata salah seorang warga yang hadir. Di sisi lain, tokoh masyarakat setempat memberikan pandangan yang lebih bijak terkait fenomena tersebut. Ia menekankan bahwa nama hanyalah awal, sementara pendidikan dan pembentukan karakter jauh lebih menentukan. “Nama memang penting sebagai doa, tetapi yang paling utama adalah bagaimana anak itu dididik. Karakter dan akhlak tetap menjadi kunci utama,” tuturnya. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa pemberian nama tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga bisa menjadi refleksi nilai, harapan, dan inspirasi yang dipegang oleh orang tua dalam menyambut kelahiran anak. (*)