Pertanyaannya adalah, manusia seperti apa yang mampu hidup berdampingan atau menguasai mesin yang semakin cerdas? Sebab, masa depan bukan milik manusia yang menolak mesin.
Bukan pula milik mereka yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada mesin. Masa depan adalah milik mereka yang mampu menggunakan kecerdasan mesin tanpa kehilangan kecerdasan manusia. Intinya, manusia tetap tidak boleh kalah dari mesin.
Di sinilah letak tantangan kita. AI boleh semakin pintar, tetapi manusia tidak boleh kehilangan akal, rasa, dan hati. Mesin boleh membantu kita menemukan jawaban, tetapi manusialah yang harus menentukan pertanyaan apa yang layak diajukan dan untuk siapa jawaban itu digunakan.
Selanjtunya, pilihan tetap di tangan kita; mau menguasai atau dikuasai?
Kita memberikan ide dan gagasan. AI membantu mencari informasi, mengolah data, menyusun alternatif, merangkai kalimat, bahkan menerjemahkan pikiran kita agar dapat dipahami lebih luas. Tetapi arah, nilai, keberpihakan, dan keputusan akhirnya tetap berada di tangan manusia.
Inilah literasi AI yang sesungguhnya. Bukan sekadar pandai menggunakan ChatGPT atau aplikasi AI lainnya, tetapi tahu kapan harus menggunakannya, untuk apa menggunakannya, dan kapan harus mengatakan: “Tidak, bagian ini adalah tanggung jawab saya sebagai manusia.”