Di situs ini juga ditemukan keramik Tiongkok lintas zaman, pecahan tembikar, serta manik-manik karnelian khas India.

 

“Ketika tahun ini bisa ditetapkan di akhir tahun, tentunya tahun depan proses pengembangan dan pemanfaatan akan jauh lebih terbuka luas. Status situs ini juga bisa terus berkembang ke kawasan pendukung di sekitarnya seperti kawasan Danau Gatal maupun temuan di Desa Tantan,” kata Ari.

 

Dalam buku “Jejak Peradaban Klasik Situs Pematang Jering: Dari Pecahan Bata hingga Warisan Bersama” yang ditulis M Sobar Alfahri sebagai bahan FGD, disebutkan bahwa artefak yang berhasil diangkat dari perut bumi Pematang Jering, telah memberikan gambaran kehidupan pada masa lampau. 

 

Temuan berupa pecahan porselen dan batuan (stoneware) Tiongkok di situs ini menunjukkan kesinambungan peradaban, sesuai dengan perkiraan kronologi artefak tersebut.

 

Ragam keramik ini diperkirakan berasal dari beberapa dinasti. Paling tua, pecahan keramik dari masa Dinasti Tang di Changsha. Dinasti Song pun meninggalkan jejak di Situs Pematang Jering lewat keramik khas Song Selatan bermotif "pecah seribu", dan keramik Song Utara berona hijau seladon dengan motif relief yang menonjol. Selain itu, ditemukan beberapa keramik berglasir putih berhias motif flora biru yang umumnya dibuat pada era Dinasti Ming dan Qing.