“Sebenarnya Pematang Jering ini bagian dari mandala. Dalam wilayah terpencil sebuah kedatuan, ada unsur yang berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan.

 

 Kedudukannya sama seperti candi-candi lain di Muaro Jambi, tetapi berfungsi untuk kebutuhan khusus masyarakat lokal maupun pendatang dari luar,” katanya.

 

Ari menduga lokasi Candi Pematang Jering merupakan mandala yang cukup dekat dengan kawasan pusat. Keberadaan Situs Pematang Jering membentuk jejaring candi di sepanjang aliran Sungai Batanghari.

 

Dari rangkaian ekskavasi kurun waktu 2022–2026, tim peneliti menemukan beragam artefak yang membuktikan adanya aktivitas kebudayaan yang berkelanjutan dari abad ke-8 hingga abad ke-19 Masehi. Saat ini telah teridentifikasi tiga struktur utama di lokasi, yakni struktur mandapa (ruang pertemuan), candi induk, dan parit kuno.

 

Ari mengatakan di situs tersebut juga ditemukan sejumlah paku. Secara kuantitas, paku besi di Pematang Jering bahkan lebih banyak dibandingkan temuan di kawasan Muaro Jambi, mengindikasikan adanya aktivitas peleburan atau pengolahan logam.