TRANSATU. ID, - Pendidikan dan finansial merupakan dua aspek penting dalam kehidupan manusia yang sering kali dipandang saling berkaitan. Namun, dalam realitas sosial, tidak sedikit masyarakat yang memiliki pemahaman yang keliru terhadap keduanya. Pendidikan kerap dipersepsikan semata-mata sebagai jalan untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan, sementara finansial dianggap sebagai tujuan utama dari proses pendidikan. Mispersepsi ini tidak hanya menyederhanakan makna pendidikan, tetapi juga berpotensi menggeser nilai-nilai mendasar dalam kehidupan manusia.

 

Dalam pandangan yang lebih luas, pendidikan sejatinya bukan sekadar sarana untuk mencapai kesejahteraan ekonomi, melainkan proses pembentukan manusia yang utuh. Pendidikan bertujuan mengembangkan potensi intelektual, moral, dan sosial seseorang. Namun, ketika pendidikan direduksi menjadi alat untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, maka esensi pendidikan sebagai proses pembentukan karakter menjadi terabaikan. Hal ini sejalan dengan kritik Paulo Freire yang menyatakan bahwa pendidikan tidak boleh hanya menjadi alat reproduksi sistem ekonomi, tetapi harus membebaskan manusia dari ketidaksadaran.

 

Di sisi lain, finansial sering kali dipahami secara sempit sebagai akumulasi kekayaan. Banyak orang mengukur keberhasilan pendidikan dari seberapa besar penghasilan yang diperoleh setelah lulus. Akibatnya, muncul kecenderungan memilih bidang studi bukan berdasarkan minat dan potensi, melainkan berdasarkan peluang finansial semata. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara kompetensi dan passion, yang berdampak pada rendahnya kepuasan hidup dan produktivitas kerja.

 

Dalam konteks pendidikan modern, fenomena ini semakin diperkuat oleh tuntutan pasar kerja yang kompetitif. Pendidikan tinggi sering kali diposisikan sebagai “investasi ekonomi” yang harus memberikan imbal hasil (return) dalam bentuk gaji. Pemikiran Gary Becker tentang human capital memang menempatkan pendidikan sebagai investasi yang dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Namun, jika konsep ini dipahami secara sempit, maka pendidikan berisiko kehilangan dimensi kemanusiaannya.

 

Kesalahpahaman ini memengaruhi bagaimana masyarakat memandang kesuksesan di tingkat sosial juga. Kemakmuran materi sering dikaitkan dengan kesuksesan, sementara faktor lain seperti integritas, kepuasan batin, dan pengabdian sosial kurang diperhatikan. Tekanan sosial untuk memenuhi standar kesuksesan yang seragam dan materialistis diciptakan oleh fenomena ini, terutama di kalangan generasi muda. Menurut temuan Robert Kiyosaki, bahkan di antara orang-orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, faktor utama yang berkontribusi terhadap kesalahan pengelolaan keuangan adalah kurangnya literasi keuangan.