Kekecewaan berat jelas terungkap, lantaran demo berjilid-jilid mahasiswa PMII itu menyoroti 12 unit alat berat yang masuk ke wilayah 'perawan' Jangkat, hanya tertangkap 2 unit.

lantaran dalam waktu bersamaan, penambangan emas memasuki kawasan Nalo.

Entah mengikuti 'hilangnya' alat berat di Nalo yang kemudian muncul, alat berat di Polsek Jangkat itu pun jelas memicu kemarahan publik.

"Kenapa harus diangkut malam hari? Tolong kawal ini," kecam warga.

Sementara Kapolsek Jangkat, IPTU Bakri mengatakan alat itu dibawa pemiliknya. Namun Bakri minta, agar penjelasan lebih lanjut ke Polres Merangin.

"Silahkan ke Polres bang. Itu yang pegang Reskrim," katanya.

Disinggung kenapa malam hari dilepas, sementara trado dan hilux diduga yang bakal menjemput alat berat itu sudah berada dari pagi, kapolsek lagi-lagi enggak berkomentar banyak.

"Kalau itu, malah dari kemaren (Senin 8/12) sudah datang kesini bang," katanya.

Publik kini menunggu sikap tegas Polres Merangin terkait dilepasnya alat berat yang menjadi sorotan utama aksi demonstrasi mahasiswa selama beberapa bulan lalu. Bencana besar Sumatera saat ini, menjadi kekhawatiran besar dengan pelepasan alat yang didapat dari kawasan hutan itu.

Reporter Kholil King