"Dulu, waktu saya kecil... kalau saya dimarahi emak saya, nino (nenek) saya ngajaknya lari ke bukit ini. Kami cari durian di sini," lanjutnya.

 

 terbata mengenang jemari sang nenek yang menggandengnya membelah bukit saat hatinya sedang terluka.

 

Bukit yang puluhan tahun lalu menjadi tempat pelarian seorang anak kecil yang sedang bersedih, kini takdirnya berubah. Di atas tanah tempat pelampiasan air mata masa kecil itu, kini berkumandang lantunan firman Allah.

 

Keharuan memuncak saat M. Syukur mengarahkan pandangannya ke barisan kursi undangan. Di sana duduk Haji M. Nur, sosok mamak (paman) kandungnya.

 

M. Syukur mengungkapkan bahwa kemegahan lapangan ini tidak lahir dari proyek pemerintah, melainkan dari peluh dan ketulusan masyarakat tiga kecamatan yang digerakkan oleh cinta seorang paman kepada keponakannya.