Tanpa adanya integrasi yang kuat antara pelaku UMKM, pengelola destinasi wisata, serta sistem pemasaran yang modern, UMKM desa cenderung tetap berada pada skala usaha mikro dengan nilai tambah yang rendah.
Kedua, perlu dikaji lebih mendalam sejauh mana kesiapan kapasitas UMKM di desa penyangga KCBN Muarajambi. Banyak UMKM di daerah wisata menghadapi persoalan klasik seperti keterbatasan akses permodalan, rendahnya literasi digital, standar produk yang belum konsisten, hingga keterbatasan dalam penetrasi pasar.
Tanpa intervensi yang sistematis dalam aspek peningkatan kapasitas (capacity building), pengembangan UMKM berpotensi hanya bersifat seremonial dan tidak memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Ketiga, aspek konektivitas ekonomi kawasan juga menjadi faktor krusial. Pengembangan wisata budaya tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan infrastruktur ekonomi yang memadai, seperti akses transportasi, jaringan logistik, serta integrasi dengan ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata regional.
Jika konektivitas ini lemah, maka potensi ekonomi kawasan tidak akan optimal meskipun UMKM telah dikembangkan.