TRANSATU.ID,PAMEKASAN - Di balik gemerlapnya dunia sepak bola, ada kisah perjuangan yang menggetarkan hati. Farel Esfandiar, remaja asal Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari akar sederhana.

Ia adalah anak dari seorang penjual jamu dan guru sukwan di sebuah SD Plus di Pamekasan. Dengan semangat yang tak pernah padam, Farel berhasil menembus seleksi Bhayangkara FC U-16 dan menjadi satu-satunya putra Madura yang lolos dalam ajang prestisius ini.

Farel, yang akrab disapa teman-temannya dengan panggilan tersebut, merupakan pemain muda berbakat dari SSB Lagasota Pamekasan. Di usianya yang masih belia dan sambil menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Pademawu, ia tak gentar bersaing dengan ratusan peserta lainnya dari berbagai daerah. Ketekunan, disiplin latihan, dan dukungan moral dari orang tuanya menjadi fondasi utama dalam perjalanan karier sepak bolanya.

"Setiap sore Farel tidak pernah absen latihan, meskipun hujan atau capek sepulang sekolah. Kami tahu kami bukan siapa-siapa, tapi kami yakin Tuhan adil kepada yang berusaha," ujar Ahmadi, sang ayah yang sehari-hari menjajakan jamu keliling.

Perjalanan Farel menuju Bhayangkara FC bukan tanpa rintangan. Minimnya fasilitas latihan, keterbatasan ekonomi keluarga, hingga jauhnya lokasi seleksi tidak menyurutkan tekadnya. Dengan semangat membara, ia menembus batas-batas itu, membawa nama Pamekasan dan Madura ke panggung yang lebih besar.