Ia merinci bahwa angka tersebut melibatkan masa jabatan lima gubernur secara beruntun.
"Karena yang dikatakan 1,5 T itu dari Gubernur periode 2002. Tentu dari periode Pak Zulkifli (Zulkifli Nurdin), kemudian periodenya Pak HBA (Hasan Basri Agus), kemudian periodenya Pak Zumi Zola, kemudian periode Pak Fachrori, dan sekarang periode Pak Al Haris," ungkapnya membeberkan fakta data temuan.
Dengan penjelasan ini, narasi yang menyudutkan bahwa kerugian sebesar itu hanya terjadi di era saat ini dipastikan sebagai informasi yang salah sasaran dan tidak berdasar pada pembacaan data yang utuh.
Untuk melengkapi transparansi, Ariansyah juga membuka data temuan Inspektorat yang spesifik terjadi pada masa kepemimpinan Gubernur Al Haris yang sudah berjalan kurang lebih tujuh tahun.
Faktanya, jumlahnya sangat jauh dari angka Rp1,5 triliun.
"Pada periode Pak Al Haris ini, memang ada temuan yang besarnya hanya 102 miliar," jelas Ariansyah.