Besarnya aktivitas ekonomi tersebut tercermin dari berbagai indikator pembangunan. Berdasarkan data Jambi Data Analytics Center (JDAC) tahun 2024, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencapai sekitar Rp166,33 juta per tahun, tertinggi di Provinsi Jambi. Pada periode yang sama, PDRB per kapita Kabupaten Tanjung Jabung Timur mencapai sekitar Rp114,22 juta per tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa Tanjung Jabung bukan kawasan pinggiran, melainkan salah satu pusat kekuatan ekonomi Jambi. Namun, tingginya angka makro ekonomi tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kekuatan ekonomi itu telah sepenuhnya berubah menjadi kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat?
Kekuatan Tanjung Jabung sesungguhnya tidak hanya bertumpu pada sektor migas. Kawasan ini juga merupakan salah satu sentra perkebunan terpenting di Provinsi Jambi. Sawit, kelapa, dan pinang menjadi sumber penghidupan bagi ribuan rumah tangga dan penggerak utama ekonomi pedesaan. Tanjung Jabung Timur memiliki areal sawit rakyat lebih dari 58 ribu hektare dengan produksi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu, Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat juga dikenal sebagai sentra kelapa terbesar di Provinsi Jambi. Komoditas pinang yang berkembang di kawasan ini bahkan telah menembus pasar ekspor ke India, Pakistan, Bangladesh, dan sejumlah negara Asia Selatan lainnya. Kekuatan perkebunan tersebut menunjukkan bahwa struktur ekonomi Tanjung Jabung jauh lebih beragam dibandingkan banyak daerah penghasil sumber daya lainnya.
Selain energi dan perkebunan, Tanjung Jabung juga memiliki potensi besar pada sektor perikanan, pertanian pesisir, perdagangan, dan ekonomi maritim. Laut, sungai, kawasan mangrove, serta jaringan pelabuhan membentuk ekosistem ekonomi yang jarang dimiliki daerah lain. Kawasan mangrove yang luas bukan hanya berfungsi sebagai benteng ekologis, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi melalui perikanan, ekowisata, dan ekonomi karbon. Pada saat dunia mulai bergerak menuju konsep ekonomi biru (blue economy), Tanjung Jabung sesungguhnya berada pada posisi yang sangat menguntungkan. Laut tidak hanya menyediakan ikan, tetapi juga peluang perdagangan, logistik, industri maritim, dan konektivitas ekonomi regional. Di sinilah makna lain dari julukan Gerbang Kemajuan Jambi menemukan relevansinya.
Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya tertransformasi menjadi nilai tambah ekonomi yang optimal. Persoalan utama yang dihadapi Tanjung Jabung bukan terletak pada kekurangan sumber daya, melainkan pada tantangan tata kelola pembangunan. Selama bertahun-tahun, pembangunan masih lebih banyak bergerak mengikuti logika sektoral daripada logika kawasan. Setiap sektor berkembang dengan agenda masing-masing, sementara keterhubungan ekonomi yang seharusnya menjadi kekuatan utama kawasan ini belum sepenuhnya terbangun. Akibatnya, banyak potensi yang berkembang secara parsial dan belum menghasilkan efek pengganda yang maksimal bagi perekonomian daerah.
Fenomena tersebut terlihat dari masih dominannya aktivitas ekonomi berbasis komoditas primer. Minyak dan gas bumi diproduksi dalam jumlah besar, tetapi sebagian besar rantai nilai ekonominya berkembang di luar daerah. Komoditas perkebunan dihasilkan dalam jumlah yang signifikan, tetapi sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Potensi perikanan terus berkembang, namun industri pengolahan, logistik rantai dingin, dan jaringan pemasaran modern belum tumbuh secepat potensi yang tersedia. Akibatnya, nilai tambah yang tinggal di daerah masih relatif terbatas dibandingkan dengan potensi yang dimiliki.
Di sinilah letak tantangan utama pembangunan Tanjung Jabung. Kawasan ini bukan kekurangan sumber daya, tetapi masih membutuhkan lompatan tata kelola. Masa depan pembangunan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya yang diekstraksi, melainkan oleh kemampuan mengubah sumber daya tersebut menjadi produktivitas, industri, dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Daerah tidak cukup hanya menjadi penghasil bahan baku. Daerah harus mampu menjadi pusat pengolahan, pusat distribusi, sekaligus pusat penciptaan nilai tambah. Dalam konteks inilah hilirisasi menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan kebijakan.
Di antara berbagai potensi yang dimiliki, komoditas kelapa menawarkan peluang transformasi ekonomi yang sangat menjanjikan. Jika migas menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi Tanjung Jabung selama puluhan tahun dan sawit menjadi penopang ekonomi masyarakat saat ini, maka kelapa berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru pada masa depan. Selama ini kelapa lebih sering dipandang sebagai komoditas tradisional. Padahal, di berbagai negara produsen, kelapa telah berkembang menjadi industri modern dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi dan rantai nilai yang sangat panjang.
Hampir seluruh bagian kelapa memiliki nilai ekonomi. Daging buah dapat diolah menjadi minyak kelapa murni (virgin coconut oil), santan industri, dan berbagai produk pangan. Tempurung dapat menghasilkan arang berkualitas tinggi dan karbon aktif yang digunakan dalam industri energi, farmasi, hingga teknologi. Sabut kelapa dapat diolah menjadi coco fiber dan coco peat yang memiliki pasar luas di sektor pertanian dan hortikultura. Dengan kata lain, masa depan ekonomi Tanjung Jabung tidak hanya berada di bawah tanah melalui migas, tetapi juga tumbuh di atas tanah melalui industri hilir kelapa.
Karena itu, pembangunan kawasan industri kelapa terpadu layak menjadi agenda strategis masa depan Tanjung Jabung. Kawasan ini memiliki hampir seluruh prasyarat yang dibutuhkan, mulai dari ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, akses pelabuhan, hingga kedekatan dengan pasar ekspor. Apabila petani, koperasi, UMKM, industri pengolahan, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan pemerintah daerah dapat dihubungkan dalam satu ekosistem yang terintegrasi, maka Tanjung Jabung berpeluang menjadi pusat industri kelapa terbesar di pesisir timur Sumatra. Nilai ekonomi yang tercipta tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga memperluas lapangan kerja dan memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir.
Perspektif pembangunan kawasan juga menuntut perubahan cara pandang terhadap hubungan antara Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat. Pemekaran administrasi tidak boleh berubah menjadi fragmentasi pembangunan. Tanjung Jabung Barat memiliki kekuatan pada sektor energi, perdagangan, dan pelabuhan. Sementara itu, Tanjung Jabung Timur memiliki keunggulan pada sektor perikanan, perkebunan, pertanian pesisir, dan sumber daya kelautan. Perbedaan tersebut justru merupakan modal untuk membangun sinergi kawasan yang lebih kuat. Ketika kedua wilayah ini terhubung dalam satu visi pembangunan, akan lahir koridor ekonomi pesisir yang mampu menjadi pusat pertumbuhan baru bagi Provinsi Jambi.
