"Kami setiap hari lewat sini, tapi terus terang was-was. Kayunya sudah banyak yang lapuk, tapi tidak ada jalan lain," ujar Ismadi, pengendara sepeda motor.

Ironisnya, akses jalan menuju jembatan di kedua sisi telah dibangun secara permanen menggunakan rigid beton. Namun, bagian paling krusial, yaitu jembatan penghubung antar wilayah, masih menggunakan material kayu tua yang jelas tidak lagi layak pakai.

"Sebagian lantainya sudah bolong. Kalau motor atau orang jatuh, siapa yang tanggung jawab? Pemerintah harus turun tangan sebelum ada korban," tegas Wahyu, warga lainnya.

Situasi ini mencerminkan kelalaian dalam perencanaan infrastruktur yang berkelanjutan. Masyarakat Desa Sumber Jaya tak butuh janji kosong, mereka menuntut aksi nyata dan cepat dari Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi serta dinas terkait.

Jika pembiaran ini terus berlangsung, bukan hanya akses ekonomi dan pendidikan yang terancam lumpuh, tapi juga keselamatan jiwa warga.

"Kami hanya ingin jembatan ini dibangun permanen, agar kami bisa hidup dan bekerja dengan tenang. Jangan tunggu jatuh korban dulu baru sibuk," tambah seorang warga dengan nada kesal.

Warga kini menanti jawaban tegas dan langkah konkret dari pemerintah. Sementara itu, jembatan rapuh ini terus menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.