Proses kegiatan ini telah dimulai sejak bulan Maret, melalui berbagai tahapan produksi, mulai dari proses persiapan dan pengambilan gambar untuk film dokumenter, pendokumentasian karya tari, hingga proses penyuntingan film dan penyusunan buku. 

 

Seluruh tahapan tersebut kami lakukan dengan harapan dapat menghadirkan sebuah dokumentasi yang tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan manfaat yang berkelanjutan. Adapun hasil dari kegiatan ini meliputi film dokumenter tentang perjalanan dan karya Ibu Ayu Manit, dokumentasi utuh dari tiga tari tradisi, yaitu Tari Kain Kromong, Tari Gunjing, dan Tari Ayam Biring, serta video dan buku tutorial yang memuat pembelajaran dari ketiga tari tradisi tersebut.

 

“Kami menyadari bahwa dokumentasi merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga keberlanjutan sebuah tradisi. Ketika sebuah karya seni hanya diwariskan melalui ingatan dan praktik lisan, terdapat kemungkinan bahwa sebagian pengetahuan akan hilang seiring berjalannya waktu. Oleh sebab itu, dokumentasi melalui media film, video, dan buku diharapkan dapat menjadi arsip yang dapat dipelajari kembali, digunakan sebagai bahan pendidikan, serta menjadi sumber inspirasi bagi para pelaku seni di masa yang akan datang,”ujarnya.

 

Redho berharap kisah perjalanan Ibu Ayu Manit dapat menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa pelestarian seni dan budaya membutuhkan keberanian, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar serta berbagi. Seni tradisi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dapat terus hidup dan berkembang sesuai dengan zaman.

 

“Kegiatan ini juga kami maknai sebagai sebuah penanda atas pergerakan perempuan dalam dunia kesenian. Perjalanan seorang perempuan yang memilih untuk berkarya, mengajar, menciptakan, dan menjaga tradisi merupakan sebuah pesan yang sangat kuat. Dari sosok Ibu Ayu Manit, kita dapat melihat bahwa perempuan bukan hanya penerima warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi pencipta, penggerak, pendidik, dan pionir dalam keberlanjutan seni dan budaya,”jelasnya.