Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa dan khawatir atas insiden tersebut. Ia menilai program MBG yang seharusnya menjamin asupan gizi anak, justru berisiko menjadi ancaman kesehatan.
“Kalau memang ada batas waktu, kenapa makanan masih bisa sampai ke anak-anak dalam kondisi seperti itu? Ini yang harus dijelaskan,” ujarnya.
Kasus ini kini tak sekadar soal kualitas makanan, melainkan juga menyentuh aspek kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dalam program MBG. Lemahnya pengawasan distribusi dan minimnya kontrol di tingkat penerima menjadi sorotan serius.
Sejumlah pihak mendesak evaluasi menyeluruh, mulai dari sistem produksi, distribusi, hingga mekanisme pengawasan di lapangan. Jika tidak segera dibenahi, program yang digadang-gadang sebagai solusi gizi nasional ini berpotensi kehilangan kepercayaan publik.
Hingga berita ini diterbitkan, tim Transatu masih berupaya mengonfirmasi pihak yayasan serta instansi terkait guna menelusuri kemungkinan adanya kelalaian dalam rantai distribusi MBG di wilayah tersebut.