Al Haris juga menyoroti pentingnya pemahaman tentang gambut. Menurutnya, lahan gambut sering kali dianggap tidak memiliki manfaat, padahal gambut memiliki peran besar sebagai penyimpan karbon dan penyangga ekosistem.
Gubernur menyampaikan, Pemerintah Provinsi Jambi sebelumnya telah meluncurkan modul pembelajaran tentang hutan gambut untuk siswa SMA dan SMK. Modul itu disebut sebagai bagian dari upaya menanamkan pemahaman tentang pentingnya gambut sejak dini.
"Kenapa gambut penting? Karena mereka penyumbang karbon untuk kita semua. Maka pemahaman tentang gambut harus dimiliki juga oleh anak-anak sekolah," jelasnya.
Al Haris berharap kuliah umum ini menjadi langkah awal yang konkret untuk menyatukan persepsi antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam mencegah karhutla di Jambi.
Ia menegaskan, pencegahan jauh lebih baik dibandingkan penanganan saat api sudah membesar. Sebab, memadamkan api di kawasan gambut bukan pekerjaan mudah karena titik api bisa berada jauh di dalam hutan dan sulit dijangkau.
"Kalau sudah terjadi kebakaran, luar biasa sulit memulihkannya. Kadang-kadang berhari-hari api di gambut baru bisa dipadamkan. Jangkauannya jauh, SDM terbatas, alat juga terbatas," ujar Al Haris.
Meski begitu, Al Haris menegaskan pemerintah tidak melarang masyarakat untuk bertani atau membuka lahan. Yang dilarang adalah membuka lahan dengan cara membakar.
Untuk itu, Pemprov Jambi memiliki program Pembukaan Lahan Tanpa Bakar atau PLTB. Melalui program ini, kelompok tani dapat mengajukan bantuan kepada pemerintah daerah untuk membuka lahan tanpa membakar.
"Pemerintah tidak melarang masyarakat bertanam. Yang tidak boleh itu membakar. Karena itu ada program PLTB, bahkan kita bantu juga bibit untuk petani," katanya.
Usai memberikan materi, Al Haris kembali menegaskan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam gerakan pencegahan karhutla. Ia menyampaikan apresiasi kepada Universitas Jambi dan seluruh jajaran yang telah mengambil langkah konkret melalui kuliah umum tersebut.
