Jakarta, Transatu – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan pekan ini, rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung sejak awal tahun. 

 

Sejumlah analis menilai pelemahan mata uang Garuda dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Penguatan dolar AS di pasar global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang menjadi faktor utama yang membebani rupiah.

 

Pakar ekonomi nasional, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut selama ketidakpastian global belum mereda.

 

“Penguatan dolar AS yang didorong sentimen global dan meningkatnya permintaan aset safe haven membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan cukup besar. Kondisi geopolitik dan arah kebijakan moneter global masih menjadi faktor yang harus diwaspadai,” ujarnya.

 

Sementara itu, ekonom pasar uang menilai menyusutnya surplus perdagangan serta berkurangnya pasokan devisa dari ekspor turut mengurangi daya tahan rupiah terhadap gejolak eksternal.