Gelar Aksi Demo Ditengah Laut, Kapal Troll Disebut Ancaman Serius Bagi Nelayan Kecil Arosbaya
Kamis, 1 Januari 1970 | 07:00 WIB
Foto: Dokumentasi Transtu.id
Transatu.id, Bangkalan – Gelombang protes kembali menggema dari pesisir Arosbaya. Ratusan nelayan tradisional mendesak pemerintah mengambil tindakan cepat setelah maraknya kapal penangkap ikan berbahan alat troll memasuki perairan dangkal yang selama ini menjadi ruang hidup mereka.
Aktivitas kapal-kapal tersebut disebut tidak hanya menyapu habis ikan sebelum nelayan kecil berangkat melaut, tetapi juga merusak jaring hingga mengancam nyawa.
Muhammad Haris, salah satu nelayan Arosbaya, mengaku keresahan ini puncak dari situasi yang sudah berlangsung lama. “Jaring kami sering hilang kena troll. Ikan habis duluan. Kalau sama-sama pakai alat tangkap ramah, kami tidak akan ribut begini,” ungkapnya, Kamis 27 November 2025.
Ia menuturkan kapal troll biasanya beroperasi pada sore hingga malam hari—waktu yang menjadi tumpuan nelayan kecil mencari penghasilan.
Tak hanya merugikan secara ekonomi, situasi di lapangan kian memanas. Haris menyebut beberapa nelayan pernah diancam dengan parang saat mencoba menegur kapal troll yang masuk terlalu dekat ke pantai.
Samsul Arifin, nelayan lain, menegaskan jumlah kapal troll yang datang kadang mencapai 20–30 unit dalam satu waktu. Sebagian besar berasal dari Gresik, Lamongan, hingga Tuban.
“Masalahnya mereka masuk hanya satu meter dari bibir pantai. Kapalnya besar. Kalau menabrak perahu kecil kami, bukan cuma perahu yang habis, tapi juga nyawa,” ujarnya.
Situasi ini membuat ketegangan horizontal antar-nelayan kian rawan terjadi.
Mahmudi, Anggota DPRD Bangkalan asal Arosbaya, menegaskan warga setempat tidak menolak kedatangan nelayan luar daerah. Namun, penggunaan alat troll disebut **tidak bisa ditoleransi**, karena sudah jelas dilarang dan terbukti merusak ekosistem.
Ia meminta pemerintah pusat hingga daerah turun tangan segera, mulai dari Bupati Bangkalan, Gubernur Jawa Timur, Kapolda, Kapolres, hingga Presiden RI Prabowo Subianto.
“Nelayan juga manusia yang butuh makan. Hentikan operasi kapal troll di perairan kami. Lindungi nelayan kecil sebelum terjadi konflik yang lebih besar,” tegas Mahmudi.
Ia berharap ada langkah tegas untuk menjaga keberlangsungan hidup nelayan tradisional sekaligus melindungi ekosistem laut Arosbaya yang terus tergerus.