IMG_20260220_212824
previous arrow
next arrow

Sampaikan Kebenaran di Ruang Publik Malah Dicap Sakit Hati Para Penjilat Kekuasaan

- Jurnalis

Selasa, 3 Juni 2025 - 06:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ali Prawinata, S.H., M.H.

Ali Prawinata, S.H., M.H.

Oleh: Ali Prawinata, S.H., M.H.

Di salah satu dusun di Merangin, kata “Kamu” bukan sebutan biasa. Ia bukan panggilan akrab di pesan singkat atau seruan keras saat bertengkar. Di sana, “Kamu” adalah penghormatan tertinggi. Sebuah sapaan adat, peninggalan bahasa tuo yang menandai luhur dan santun.

Mirip “Kayo” di Kerinci, “Kamu” menjadi simbol betapa anak muda Merangin belum tercerabut dari akar. Mereka mungkin kuliah di kota, berdebat di kelas, bahkan turun ke jalan—tapi lidah mereka masih menyimpan bahasa tua itu, yang dulu dilafalkan para leluhur saat merawat tanah dan sungai.

Tapi, entah bagaimana, sebuah video jadi viral. Seorang mahasiswa menyebut “Kamu” saat demonstrasi dan tuduhan tak beradab pun datang. Konon katanya, mahasiswa itu kurang ajar. Mungkin karena ia menyuarakan kebenaran. Mungkin karena ia tidak menjilat. Atau mungkin, karena ia terlalu mirip dengan cermin dan para pejabat tak suka melihat wajah sendiri.

Begitulah nasib anak muda yang masih waras di negeri gaduh ini. Mereka disebut barisan sakit hati, hanya karena tak ikut barisan tepuk tangan.

Padahal tugas mereka memang begitu: menjadi agent of control, penyeimbang di antara pesta anggaran dan etika yang compang-camping. Tapi apa balasannya? Dicemooh, dilabeli, dan dihadang oleh buzzer yang lebih sibuk menjaga citra kekuasaan ketimbang akal sehat.

Coba tanya buzzer-buzzer itu, apakah mereka pernah duduk di bangku kuliah? Atau hanya lulus dari akademi puja-puji?

Di tengah gegap gempita efisiensi dari pusat, jalan-jalan desa masih tergeletak seperti luka yang dibiar membusuk. Ada dusun yang sudah 30 tahun tak melihat aspal, hanya tanah kuning yang berubah jadi kubangan kalau hujan.

Bahkan, saat seorang guru viral karena jembatan rusak, ia bukan diberi solusi, malah diminta klarifikasi. Sebab kritik itu dianggap duri, bukan peringatan.

Kini, yang penting pimpinan senang. Rakyat? Ah, nanti sajalah. Toh, selama masih bisa selfie dan potong pita, negeri ini tetap tampak meriah.

Ya sudahlah. Mungkin “beradab” di zaman ini memang berarti: diam, tunduk, dan ikut merayakan kesalahan bersama-sama.

Baca Juga :  Sambut Hari Bhayangkara ke-79, Polres Sumenep Gelar Bakti Religi di Masjid Baitur Arham
Follow WhatsApp Channel transatu.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fadhil Arief Mulai Panaskan Mesin Politik Menuju Gubernur Jambi 2030
RAMAI DI TEBO! Tokoh Adat Tak Diajak Bahas Batas Sungai Bengkal, Dewan Angkat Bicara
Berbagi Kebahagian, Partai Nasdem Kabupaten Sarolangun Santuni Ratusan Anak Yatim dan Kaum Dhuafa
Rudy Disebut Broker di Persidangan: Apakah Keterangannya Merupakan Fakta Hukum atau Narasi yang Dilebih-lebihkan..?
Kapolres Merangin Santuni Anak Yatim Saat Buka Puasa Bersama
Soal Hukum dan Pemprov Jambi, Pengamat: Biarkan Perangkat Hukum Bekerja, Waspada Penggiringan Opini
Polsek Tabir Ulu Fasilitasi 6 Ton Jagung Petani Tabir Barat ke Limbur Merangin Setelah Ditolak Bulog
Kapolsubsektor Tabir Timur dan Pemerintahan Safari Ramadhan Bersama

Berita Terkait

Rabu, 18 Maret 2026 - 15:58 WIB

Fadhil Arief Mulai Panaskan Mesin Politik Menuju Gubernur Jambi 2030

Senin, 16 Maret 2026 - 04:36 WIB

RAMAI DI TEBO! Tokoh Adat Tak Diajak Bahas Batas Sungai Bengkal, Dewan Angkat Bicara

Minggu, 15 Maret 2026 - 02:22 WIB

Berbagi Kebahagian, Partai Nasdem Kabupaten Sarolangun Santuni Ratusan Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

Selasa, 10 Maret 2026 - 21:56 WIB

Rudy Disebut Broker di Persidangan: Apakah Keterangannya Merupakan Fakta Hukum atau Narasi yang Dilebih-lebihkan..?

Selasa, 10 Maret 2026 - 02:13 WIB

Kapolres Merangin Santuni Anak Yatim Saat Buka Puasa Bersama

Berita Terbaru