Sementara di kabupaten Sumenep banjir melanda sedikitnya di tiga kecamatan, mulai kecamatan kota yang hamper seluruh ruas jalan utama di Kota Sumenep terendam banjir dengan ketinggian air mulai 30 cm hingga 60 cm, Kecamatan Batuan dan Kecamatan Pragaan menjadi titik banjir yang lumayan parah dan mengakibatkan rumah warga serta salah satu pagar Pondok Pesantren roboh dan air masuk ke area pesantren.
Banjir terjadi, kata Nur Faizin, buruknya sistem dan tata kelola drainase, hal itu juga disebabkan minimnya anggaran untuk proyek pengendalian banjir. Selain itu, kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan juga disebut sebagai penyebab memburuknya kondisi setiap tahun, baik lahan serapan air yang beralih fungsi menjadi perumahan hingga menjadi tempat galian C illegal.
"Jika tidak ada tindakan konkret, banjir ini akan terus menjadi momok bagi masyarakat Madura. Kami mendesak Gubernur dan Bupati segera duduk bersama untuk menyusun langkah jangka panjang," ujar politisi PKB ini.
Pihaknya pun mendorong agar Pemprov Jatim menjadikan Madura sebagai prioritas dalam agenda pembangunan. Menurutnya, keterlambatan pembangunan infrastruktur dasar seperti, tanggul sungai, dan sistem pengelolaan air menjadi faktor utama terjadinya banjir berkepanjangan.
“Kami minta Pemprov tidak hanya fokus pada wilayah perkotaan saja. Madura juga bagian dari Jawa Timur dan berhak mendapat perhatian yang serius, terutama dalam hal infrastruktur penanggulangan bencana,” ujarnya.



