TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Diduga Jadi Sarang Maksiat, Ratusan Warga Porak Poranda Tempat Karaoke di Pamekasan

Transatu.id,PAMEKASAN, – Kurang Lebih Ratusan massa dari berbagai daerah menggeruduk tempat karaoke yang diduga jadi sarang maksiat di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Jum’at (08/09/23).

 

 

Ratusan massa aksi tersebut langsung menuju tempat karaoke Moga Jaya yang berada di Kelurahan kolpajung, Kecamatan Pamekasan.

 

Sontak seketika sejumlah massa memporak poranda beberapa tempat yang ada di tempat karaoke tersebut.

 

 

Meski dikawal pihak kepolisian dari Polres Pamekasan, Aksi massa yang berjumlah ratusan tidak terbendung.

Baca Juga :  Babinsa Koramil 0826-02 Tlanakan Berkolaborasi Dengan IPTA Dan Warga Dalam Kerja Bhakti Pembersihan TPU

 

Mereka masuk ke lokasi dengan cara merusak pagar dan merusak perlengkapan karaoke yang ada di setiap kamar.

 

Mereka melakukannya karena kecewa terdapat Pemerintah Kabupaten Pamekasan yang dianggap lalai untuk menutup secara permanen tempat tersebut.

 

“Sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap Pemerintah Kabupaten Pamekasan yang dianggap lalai untuk menutup secara permanen tempat tersebut. Dan tetap masih beroperasi,” ucap warga yang ikut aksi.

Baca Juga :  Kodim 0826/Pamekasan Gelar Kegiatan Peningkatan Kemampuan Apkowil Tersebar Ta. 2023

 

Tokoh masyarakat, Lora Azis yang turut mengikuti aksi sweeping tempat karaoke Moga Jaya mencoba menenangkan massa untuk tidak merusak fasilitas.

 

“Saya meminta kepada massa agar menyerahkan penertiban Karaoke kepada polisi,” kata Lora Azis saat dimintai keterangan di lokasi.

 

Akan tetapi, massa aksi tetap melakukan tindakan anarkis dengan membakar dan merusak fasilitas di tempat karaoke Moga Jaya.

Baca Juga :  Babinsa Posramil 0826/12Kadur Bantu Petani Manfaatkan Lahan Kosong untuk Tanami Jagung dan Bawang Merah

 

K Aziz selaku massa aksi menyampaikan, penutupan paksa yang dilakukan atas kehendak dan inisiatif masyarakat. Dimana, sebelumya sudah dilakukan upaya penutupan, namun tetap beroperasi. Sehingga memicu masyarakat untuk menutup paksa.

 

“Sudah beberapa kali kami melakukan audiensi dan demo ke DPRD dan Satpol PP. Tapi sampai saat ini sudah bertahun-tahun ternyata masih beroperasi, dan ini penutupan paksa dilakukan masyarakat sendiri karena meresahkan Bumi Gerbang Salam,” tutupnya.

TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA